Arab pra-Islam: Genealogi Suku II – Keturunan Ismail

Posted in Sejarah on February 26th, 2010 – Tags: , Be the first to comment

Dari Muhadrat Tarikh Al-Umam Al-Islamiyah disebutkan bahwa Nabi Ismail belajar bahasa (Arab) dari Bani Jurhum, dari suku Qahtani (Arab selatan). Disebutkan pula bahwa setelah Nabi Ibrahim memberi tanda untuk menceraikan istri pertamanya, Ismail kemudian menikah lagi dengan putri dari kepala suku Bani Jurhum, Mudad bin ‘Amr. Ada yang mengatakan bahwa Ismail berusia hingga 137 tahun, dan kemudian dimakamkan di al-Hijr, dekat makam ibunya Siti Hajar (Hijr).

Menurut Ibnu Ishaq, dari istri keduanya ini Ismail mempunyai 12 anak: Nabet, Qidar, Edbael, Mebsham, Mishma’, Duma, Micha, Hudud, Yetma, Yetour, Nafis dan Qidman, yang pada akhirnya menjadi 12 Bani Arab Musta’ribah, yang mendiami Mekah. Pada masa selanjutnya, bani-bani ini kemudian berpencar ke seluruh–bahkan keluar–jazirah Arab, kecuali keturunan dari Nabet and Qidar.

Perjalanan Ibrahim-Ismail dari Hebron ke Mekkah - Melintasi Incensce Route (Rute Wewangian, Kemenyan)

Perjalanan Ibrahim-Ismail dari Hebron ke Mekkah - Melintasi Incensce Route (Rute Wewangian, Kemenyan)

Catatan Ibnu Katsir memiliki sedikit perbedaan dengan Muhammad Ibn Ishaq berkaitan nama-nama anak Nabi Ismail, namun perbedaannya hanya pada lafal atau dialek. Dikatakan oleh Ibnu Katsir, bahwa istri Nabi Ismail (dari bani Jurhum) adalah Sayidah binti Madad bin Amr, dan ke-12 putranya, sebagaimana dikemukakan Ibn Ishaq, adalah:

  1. Nebaioth (Nabit, Nabet)
  2. Qedar (Qidar, Qaydarah)
  3. Abdeel (Edbael, Azil)
  4. Mibsam (Mebsham, Misma’)
  5. Mishma (Misha)
  6. Massa (Mashsh, Micha)
  7. Dumah (Duma, Dusa)
  8. Hadad (Hudud, Aarrar)
  9. Jetur (Yatur, Yetour)
  10. Naphish (Nafis, Nabash)
  11. Tema (Tayma, Yetma)
  12. Qedmah (Qaydhma, Qidman)

Ibnu Katsir juga menambahkan bahwa penduduk Hijaz adalah keturunan dari Nabet dan Qidar, dan mereka mendiami kota-kota di sekitar Hijaz, diantaraya Thaif, Mekah dan Yastrib (Madinah).

Jazirah Arabia

Jazirah Arabia

Nabatean atau Nabasia berasal dari keturunan Nabet, yang kemudian menguasai Arab utara dan menjadikan Petra sebagai ibukotanya. Tidak ada yang dapat menandingi kebesaran kerajaan Nabasia di utara, hingga Romawi akhirnya sedikit demi sedikit menguasai wilayah kekuasaannya. Adapun keturunan Qidar mendiami daerah-daerah di sekitar Mekah. Di antara keturunannya adalah ‘Adnaan; yang kemudian melahirkan suku Quraisy.

‘Adnan adalah leluhur ke-21 dari Muhammad SAW. Dikisahkan, setiap kali Nabi Muhammad SAW berbicara tentang leluhurnya, beliau akan berhenti pada ‘Adnaan, seraya berkata: “Silsilah berisi kebohongan (kesalahan)” dan tidak meneruskan silsilah melebihi ‘Adnan. Bagaimanapun para peneliti mengajukan hipotesis bahwa terdapat sekitar 40 orang antara ‘Adnan hingga Ibrahim.

Adnaan memiliki putra bernama Ma’ad, yang memiliki satu-satunya anak bernama Nizar. Nizar melahirkan 4 suku: Eyad, Anmar, Rabi’ah, dan Mudar.

Dari garis Rabi’ah keluarlah keturunan Asad, ‘Anazah, Abdul Qais, dan Wa’il, Hanifa, dan yang lainnya. Bani Taghlib dan bani Bakr berasal dari Wa’il.

Keturunan Mudar terpecah dalam dua kelompok besar: Qais ‘Ailan bin Mudar dan Elias bin Mudar. Dari Qais ‘Ailan lahir bani Salim, bani Hawazin, bani Ghatafan. Beberapa bani lahir dari bani Ghatafan, diantaranya bani Abas, Zubay, Ashja’ dan Ghani bin A’sur. Adapun dari Elias bin Mudar lahir bani Tamim bin Murra, Hudhail bin Mudrika, bani Asad bin Khuzaimah, dan Kinana bin Khuzaiman–yang darinya lahir bani Qurays dari Fahr bin Malik bin Nadr bin Kinanah.

Qurays terbagi atas beberapa suku, beberapa yang terkenal adalah: Jumah, Sahm, ‘Adi, Makhzum, Tayim, Zahra dan beberapa keluarga suku dari Qushay bin Kilab: Abu Dzar bin Qushay, Asad bin Abdul Uzza bin Qushay, dan Abdul Manaf bin Qushay.

Abdul Manaf memiliki 4 orang anak: Abdul Shams, Nawfal, Muthallib dan Hasyim. Dari keturunan Hasyim inilah kemudian lahir Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthallib bin Hasyim.

@zaenal
Bandung, Maret 2009


Leave a Reply