Arab pra-Islam: Kerajaan-Kerajaan di Utara

Posted in Sejarah on February 26th, 2010 – Tags: , Be the first to comment

Baik di utara atau selatan, pada dasarnya semua kerajaan yang dibangun oleh bangsa Arab merupakan kerajaan suku. Sebelum Islam, satu-satunya yang merupakan konfederasi atas beberapa suku di jazirah Arabia adalah kerajaan Kindah yang berdiri pada abad ke-4 Masehi, terletak di sebelah barat sungai Eufrat. Istilah “raja” (malik) juga tidak dikenal di kalangan bangsa Arab, dan hanya disematkan kepada penguasa asing. Orang Arab sendiri biasa memanggil ‘raja’ mereka dengan sebutan “syaikh” atau “amir”.

Bila di selatan terdapat berbagai kerajaan yang berusia tua dan independen, maka kerajaan-kerajaan Arab di utara umumnya berusia pendek. Hal ini terjadi mengingat faktor geo-politik di sekitar daerah Bulan Sabit Subur yang dikepung kerajan besar dan penuh konflik, serta faktor internal bangsa Arab berupa persaingan antar suku.

Sejarah mengenai kerajaan-kerajaan Arab utara sudah dikenal sejak masa Asyiria kuno dan Babilonia kuno. Dalam manuskrip-manuskrip Babilonia, misalnya, kita mengenal beberapa daerah Arab yang diserbu pasukan Babilonia, diantaranya adalah kerajaan Nabate (Nabasia, al-Anbaat). Selain itu, kita juga mengenal sebuah kota (oase) bernama Thema (Tayma) di tengah-tengah gurun pasir, yang merupakan tempat pengasingan Nabondius selama 7 tahun. Thema kemungkinan merupakan baian dari kerajan Nabate, dan dipercaya berada di semenanjung Arab, di sebelah tenggara kota Tabuk hari ini.

GoogleMap - Tayma: http://maps.google.com/maps?daddr=Tayma

Nabonidus Chronicle - 5SM

Nabonidus is the last king of Babylonia. During his first regnal years, he campaigns in the west, and then settles in Tema, an oasis in the western desert. Back to his kingdom after some years in Tema. (Nabonidus Chronicle - 5 SM)

Nabasia Kuno

Nabate atau Nabasia kuno adalah kerajaan besar. Hal itu terbukti bahwa mereka tidak dapat ditundukan oleh Iskandar Dzulkarnain. Bahkan sekitar 312 SM diberitakan penulis sejarah Diodorus, bahwa Nabasia berhasil menangkis 2 kali serangan pasukan Antigonius, Raja Asyiria, penerus Iskandar Dzulkarnain. Dari catatan Diodorus Siculus (w. 57 SM) terungkap bahwa Nabasia kemudian berada dalam kekuasaan Ptolemeus yang berkuasa di Mesir. Dan pada zaman Romawi menjadi sekutu kuat Romawi di Semenanjung Arab.

Pusat kerajaan Nabasia adalah Petra, yang pada sekitar abad ke-4 berhasil mereka rebut. Petra terletak di sekitar Wadi Musa (Lembah Musa), di timur laut Aqabah. Petra termasuk kota kunci bagi jalur perdagangan rute Wewangian dari Saba ke Mediterania. Hari ini Petra terkenal dengan reruntuhannya berupa bangunan dan pekuburan yang dipahat di tebing-tebing cadas.

Puncak kejayaan Nabasia kuno (yang terekam sejarah) diperkirakan terjadi pada kurun 9 SM – 40 M, pada periode pemerintahan Haritsats IV. Pada sekitar 105 Masehi, Nabasia jatuh ke tangan raja Tyra dan menjadi provinsi Romawi.

GoogleMap - Petra (±20 KM barat laut kota Ma’an): http://maps.google.com/maps?daddr=Petra

Reruntuhan Petra

Reruntuhan Petra

Pemakaman Nabatea di Petra

Pemakaman Nabatea di Petra

Palmyra

Palmyra (Arab: Tadmur) merupaka kota kerajaan yang dihimpit kekuatan Romawi di Barat dan Persia di Timur. Pada abad 2-3 Masehi, kota Palmyra merupakan kota terkaya di kawasan Timur Dekat.

Kapan tepatnya bangsa Arab menguasai Palmyra, tidak diketahui. Rujukan otentik pertama tentang kota tersebut datang dari Romawi, dimana disebutkan Mark Anthony pada 42-41 SM gagal menguasai kota tersebut. Catatan sejarah lebih lanjut menyebutkan bahwa dibawah pimpinan panglima Odainat (Arab: Udhyanah), Palmyra berhasil menaklukan sebagian besar daerah Suriah pada kurun 260 Masehi. Pada saat itu Palmyra merupakan sekutu kuat Romawi, dan raja mereka diangkat sebagai wakil Romawi (dux Orientis) di Timur, pada 262 Masehi.

GoogleMap - Palmyra: http://maps.google.com/maps?daddr=Palmyra

Inscription of Queen Zenobia at Palmyra

Inscription of Queen Zenobia at Palmyra

Fortified Temple of Bel Shamin in Palmyra, Syria

Fortified Temple of Bel Shamin in Palmyra, Syria

Gassan

Orang-orang Gasan mengklaim sebagai keturunan suku Arab selatan kuno. Mereka bermigrasi ke utara pada akhir abad ke-3 Masehi dipimpin oleh Amir Muzaqiyah ibn Amir Ma’a-l-Sama’. Jafna ibn Amir Muzaqiyah kemudian dikenal sebagai pendiri dinasti Gassan di Arab utara. Suku dari Yaman selatan ini mendesak keturunan Nabi Shalih, dan memantapkan keberadaan mereka di sekitar Damaskus.

Kerajaan Gassan, seperti musuh dan tetangganya sesama kerajaan Arab yakni kerajaan Lakhmi, mencapai kejayaan pada abad ke-6 Masehi. Pada kurun tersebut kisah raja-raja mereka, Ibnu Jabalah yang bergelar al-Harits II (529-569 M) dan al-Mundzir ibn al-Harits (anak Ibnu Jabalah), mendominasi sejarah bangsa Arab. Sebagaimana kerajaan-kerajaan Arab di sebelah barat sebelumnya, kerajaan Gassan bersekutu pula dengan Romawi–sementara kerajaan Lakhmi bersekutu dengan Persia. Raja-raja Gassan umumnya beragama Kristen.

Selepas periode al-Mundzir, kerajaan Gassan mengalami kemunduran dan berbagai suku di gurun Suriah mengangkat pemimpin masing-masing. Pada saat yang sama, Dinasti Sassanid dari Persia berhasil memukul Romawi di Jerusalem (613-614 M) di bawah Khusraw Parwiz. Kehilangan pemimpin yang dihormati dan kekalahan sekutu Romawi oleh Persia, mengakhiri Dinasti Gassan untuk selamanya.

Lakhmi

Suku Tanukh dari Yaman selatan memulai pengembaraan sejak awal abad ke-3 Masehi melewati pesisir timur Jazirah Arab, dan menetap di sebelah Barat sungai Eufrat, dekat kota Kuffah, Irak. Kedatangan mereka berdekatan dengan jatuhnya Dinasti Arsasia di Persia, digantikan Dinasti Sasanid (226 Masehi).

Pada mulanya suku Tanukh hanya tinggal di tenda-tenda dan hidup nomaden. Namun seiring berjalannya waktu, perkemahan sementara mereka berubah menjadi pemukiman Hirrah (berasal dari bahasa Syria: herta, yang berarti kemah). Kota Hirrah ini pada akhirnya berkembang menjadi ibukota kerajaan Arab Persia, dan dikenal sebagai kerajaan Lakhmi, yang didirikan oleh Amir ibn ‘Adi ibn Nashr ibn Rabi’ah ibn Lakhm.

Kehadiran kerajaan Lakhmi di timur berbarengan dengan kerajaan Gassan di barat, dan berakhir hampir bersamaan. Raja terakhir Dinasti Lakhmi adalah al-Nu’man III (580-602 M), yang merupakan satu-satunya–dan yang terakhir–raja Lakhmi yang beragama Kristen. Perihal bahwa raja-raja sebelumnya tidak ada yang beragama Kristen, diduga demi kepentingan politik dan persekutuan dengan Persia yang merupakan musuh Romawi (Kristen).

Al-Nu’man kemudian digantikan oleh Iyas ibn Qabisah dari Thayyi (602-611M), yang menjadi raja terakhir kerajaan Lakhmi. Pada masa pemerintahan Iyas, Persia menempatkan wakil kerajaannya di Lakhmi dan ‘mengontrol’ kerajaan Lakhmi. Pada 611M, Persia akhirnya menghapus sistem kerajaan protektorat Lakhmi dengan mengangkat gubernur Persia menjadi pemimpin tertinggi di Hirrah.

Hirrah berhasil kembali direbut oleh bangsa Arab pada tahun 633 Masehi, ketika Khalid bin Walid memimpin pasukan Islam menaklukkan Hirrah.

Kindah

Bila Gassan dan Lakhmi bersekutu dengan kerajaan asing, maka kerajan Kindah bersekutu dengan kerajaan Himyar dari Arab selatan. Kerajaan Kindah (480 M) berpusat lebih ke dalam, di sekitar Arab tengah. Pendiri kerajaan Kindah adalah al-Hujr yang bergelar Akil al-Murrar, yang merupakan saudara tiri Hasan ibn Thuba’, yang menjadi raja Himyar. Inilah satu-satunya kerajaan Arab yang merupakan konfederasi dari berbagai suku Arab–yang ditaklukan Thuba’ dari Himyar.

Pada 529 Masehi, kerajan Kindah jatuh ke tangan Al-Mundzir II dari kerajaan Lakhmi. Diceritakan al-Mundzir menghukum mati raja Kindah, al-Harits, beserta 50 orang keluarga kerajaan Kindah, yang merupakan pukulan mematikan bagi kerajaan Kindah. Pasca kematian al-Harits, konfederasi pecah dan masing-masing suku mengangkat pemimpinnya masing-masing.

@zaenal
Bandung, Maret 2009


Leave a Reply