Arab pra-Islam: Genealogi Suku I – Etnografi
Posted in Sejarah on February 26th, 2010 – Tags: Arab, Suku – Be the first to commentKata arab dalam bahasa semit-aramaik, atau ereb dalam Injil, mengandung arti “gurun” atau “para penduduk gurun”. Hal yang sama juga berlaku dalam al-Quran, dimana kata a’rab digunakan sebagai sebutan untuk orang Badui atau orang gurun.
Kerajaan-kerajaan datang silih berganti; tetapi di tengah padang pasir yang tandus, orang Badui tetap sama dari dulu hingga sekarang. Lautan padang pasir yang membentang dari utara ke selatan di sepanjang Semenanjung Arab, boleh jadi adalah musuh bagi orang asing, namun gurun adalah rumah bagi orang Arab (Badui). Orang Badui–berbeda dari orang gipsi yang mengembara tanpa arah–merupakan representasi terbaik adaptasi manusia terhadap alam gurun, dan mereka bergerak mengikuti takdir alam itu.
Gurun adalah rumah sekaligus benteng bangsa Arab. Gurun pulalah yang menjadi ‘penjaga’ tradisi sakral mereka, kemurnian bahasa dan darah mereka, bahkan kemurnian genealogi kuda-kuda tunggangan mereka–yang berasal dari Indo-Eropa kuno dan baru memasyarakat abad ke-2 SM.
Faktor alam yang keras seperti ini telah membuat ikatan keluarga dan suku menjadi sangat kuat di sana. Tenda dan perabotan rumah sederhana adalah milik pribadi; namun padang rumput, ladang, dan air–termasuk sumur dan mata air–adalah milik bersama (suku). Bagi orang Badui, tidak ada musibah paling hebat dan paling menyakitkan selain putus keanggotaan dengan sukunya. Seseorang yang tidak terikat kepada suku manapun, di tengah kepungan gurun yang tandus dan dalam masyarakat yang menganggap orang asing (bukan dari sukunya) adalah pesaing dan musuh, bagaikan sebuah ‘hukuman mati’.
Baik di utara atau selatan, pada dasarnya semua kerajaan yang dibangun oleh bangsa Arab merupakan kerajaan suku. Sebelum Islam, satu-satunya yang merupakan konfederasi atas beberapa suku Arab adalah kerajaan Kindah yang berdiri pada abad ke-4 Masehi di sebelah barat sungai Eufrat. Istilah “raja” (malik) juga tidak dikenal dan hanya disematkan kepada penguasa asing; orang Arab biasanya memanggil ‘raja’ mereka dengan sebutan “syaikh” dan “amir”.
Genealogi Kesukuan
Para penghuni semenanjung Arab membagi masyarakatnya menjadi 2 kelompok: ba’idah dan baqiyah. Ba’idah adalah sebutan untuk suku atau kaum yang sudah punah, seperti suku ‘Ad di selatan (Hadramaut) dan Tsamud di utara; sedangkan baqiyah adalah suku-suku yang masih ada. Kelompok baqiyah kemudian dibagi lagi dalam dua keturunan etnis: ‘aribah (murni) dan musta’ribah (ter-arab-kan, tidak murni).
Termasuk keturunan ‘aribah adalah suku Qahthan, yang merupakan penduduk asli Arab selatan. Suku Qahthan ini dikenal dalam kisah Nabi Ismail, dimana para kafilah (pedagang) bani Jurhum, merupakan keturunan dari suku Qahthan. Mereka inilah yang mula-mula berjumpa dengan Siti Hajar dan kemudian sebagian menetap di Mekkah.
Adapun keturunan musta’ribah adalah orang-orang yang menghuni daerah Hijaz (daerah Mekah), Nejed, Nabasia, dan Palmyra, yang semuanya merupakan keturunan dari suku ‘Adnaan, yang genealoginya sampai ke Nabi Ismail. Bani Qurays, yang merupakan suku Nabi Muhammad SAW, merupakan keturunan dari suku Nizaar yang tersambung hingga ke ‘Adnaan ini.
Adakalanya kerap terjadi penyederhanaan: suku Qahthan mewakili orang-orang Arab selatan; dan suku ‘Adnaan mewakili orang-orang Arab utara. Namun pemisahan utara-selatan ternyata tidak dapat diberlakukan secara ’saklek’ berdasarkan geografis; mengingat sudah sejak mula orang-orang Arab selatan sering bermigrasi ke utara. Contohnya adalah kerajaan Saba, yang sudah sejak lama memiliki dan membangun koloni di sepanjang Jalur Wewangian (Incensce Road) di pesisir barat jajirah Arab.
Pada zaman Nabi SAW, kita pun mengenal dua keturunan suku ini, yang satu dari golongan Muhajirin dan yang lainnya dari Anshar. Berbeda dari muslim Mekah (kaum Muhajirin) yang mayoritas merupakan keturunan ‘Adnaan, maka para penolong Nabi Muhammad saat hijrah (kaum Anshar) merupakan orang-orang keturunan Yaman dari Arab selatan yang banyak bermukim di Madinah. Ini membuktikan bahwa orang-orang Selatan sudah biasa bermigrasi, mengingat Madinah terletak lebih utara dari Mekah.
Lebih jauh ke belakang, dalam kisah Nabi Ibrahim, kita pun mengenal kerajaan Ur-Kasdim di sekitar Babilonia, yang sebagian masyarakatnya adalah imigran dari Arab selatan (Hadramaut) dan merupakan keturunan Nabi Hud. Ibrahim pun dipercaya berasal dari suku Hud yang selamat dari adzab yang menimpa kaum ‘Ad, dimana keturunan kaum ‘Ad yang selamat bermigrasi menyisiri pantai timur jazirah Arab hingga ke utara di sekitar sungai Eufrat-Tigris.

Arab pra-Islam: Kerajaan Saba, Himyar, Nabatea-Petra, Gassan, Lakhmi dan Kindah
***
Etnografi suku-suku Arab
| 1. | Arab Ba’idah (suku-suku yang telah punah) | |
| diantaranya: ‘Ad, Tsamûd, Tasam, Jadis, Emlaq, dan lain-lain. | ||
| 2. | Arab Baqiyah, terdiri atas: | |
| a. | ‘Aribah, berasal dari Ya‘rub bin Yashjub bin Qahtan atau biasa disebut Arab Qahtani. Diantaranya: | |
| - Keturunan Himyar: Zaid Al-Jamhur, Quda‘a dan Sakasik. - Keturunan Kahlan: Hamdan, Anmar, Tai’, Mudhhij, Kinda, Lakhm, Judham, Azd, Aws, Khazraj dan Jafna. |
||
| b. | Musta’ribah, berasal dari keturunan Ismail bernama ‘Adnaan. | |
| Berbagai suku dan keturunannya sudah dijelaskan diatas. | ||
@zaenal
Bandung, Maret 2009
