Arab pra-Islam: Festival Ukaz

Posted in Sejarah on February 26th, 2010 – Tags: , , Be the first to comment

Bangsa Arab bukanlah semata orang Badui yang nomaden; tetapi bila menemukan tempat berpijak yang ramah, mereka dapat menghasilkan kebudayaan tinggi, seperti diperlihatkan kerajaan Saba, Himyar, Hadramaut, Petra (Nabasia) dan Palmyra. Dan beberapa dari kerajaan-kerajaan tersebut, seperti Gassan dan Lakhmi, eksis bahkan hingga zaman Rasulullah SAW.

Syair memang berpengaruh kuat bagi masyarakat Arab, dan sebagian besar diwariskan secara lisan. Namun bangsa Arab juga sudah mengenal sistem tulis, bahkan sejak kerajaan Saba kuno. Prasasti atau manuskrip tertua bangsa Arab yang ditemukan berasal dari abad ke-7 SM, diperolah dari daerah al-’Ula (sebelah selatan Tabuk). Tapi diduga masih banyak prasasti atau manuskrip lain yang belum terungkap atau rusak ditelan zaman.

Tidak ada bangsa yang sedemikian menghargai “ungkapan lisan” melebihi bangsa Arab. Orang-orang Arab–hingga kini–sekalipun mereka tidak begitu faham dengan kandungan atau bahasa syair yang dibacakan, emosinya dapat teraduk-aduk ketika mendengarkan syair. Wajar bila Umar bin Khattab menangis ketika mendengar bacaan al-Quran, hingga kemudian menyatakan diri masuk Islam.

Kegemaran terhadap syair, konon berawal dari kebiasaan dukun dan peramal Arab mengucapkan mantra. Penyair (sin, ‘ain, ra), secara bahasa dan pada mulanya adalah sebutan bagi orang yang memiliki kemampuan menyentuh hal yang tersembunyi (ghaib). Seorang penyair, dengan kekuatan bahasanya, dapat menimpakan kutukan kepada musuh atau kesembuhan dan kebahagiaan kepada pemintanya.

Pada perkembangan selanjutnya, para penyair memiliki kedudukan terhormat di kalangan bangsa Arab, dan digunakan untuk hiburan, kepentingan politik, dan juga kompetisi dengan suku lain. Festival Ukaz, yang diselenggarakan di kota Ukaz dekat gunung Arafah, menjadi ajang penyair berbagai suku Arab memperlihatkan kebolehannya. Syair dari pemenang festival ini biasanya ditulis dengan tinta emas dan dipampang di Kabah, sehingga dikenallah istilah al-mu’allaqaat (puisi-puisi emas).

“Lidah lebih tajam dari pedang” merupakan adagium masyarakat Arab yang terkenal. Tidaklah mengherankan bila, misalnya, dalam persaingan kerajaan Gassan dan Lakhmi, mereka pun berebut para penyair emas. Ibnu Hind (554M -569M) raja dari kerajaan Lakhmi, memboyong para penyair mu’allaqat ke kerajaannya, seperti Tsarafah ibn Al-’Abd, al-Harits ibn Hillizah dan ‘Amr ibn Kultsum (tiga dari 7 penyair mu’allaqat di zaman itu). Sedangkan kerajaan Gassan memiliki Labid, penyair termuda dari 7 penyair mu’allaqat.

Para penyair ini adalah sarana paling ampuh untuk membentuk opini publik, mengangkat citra suku dan rajanya, sekaligus menghancurkan citra suku lain. Mungkin syair-syair seperti inilah yang dilarang oleh Nabi SAW, karena seorang penyair keturunan wangsa Gassan yang masuk Islam, Hassan ibn Tsabit (l. 563 Masehi), pernah dipuji Rasulullah SAW karena syair-syairnya yang indah.

Satu hal yang pasti, semua orang Arab dari segala penjuru senantiasa berkumpul pada Festival Ukaz setiap tahun pada bulan Dzulqa’dah. Festival tersebut memilih satu penyair terbaik setiap tahunnya. Selain menentukan penyair terbaik, dalam Festival Ukaz pun diadakan perlombaan lain seperti balap kuda dan memanah. Ini adalah saat dimana semua suku berkumpul untuk berlomba secara damai dan menikmati semua tontonan dan hiburan yang ada.

Watak gurun yang keras, telah melahirkan syair-syair yang indah dan memungkinkan berkembangnya bahasa Arab sebagai bahasa paling ringkas, efektif dan padat.

***

Hal ini membawa kita kepada pertanyaan lain: apakah sistem kepercayaan yang dianut masyarakat Arab?

Tidak dapat dipungkiri bahwa pengaruh dan ajaran Nabi Ibrahim melekat dalam masyarakat Arab. Hal itu terbukti dari sistem kalender yang digunakan dan pemberlakuan bulan-bulan haram yang dipatuhi seluruh suku Arab, dimana perang dilarang di seluruh suku. Bulan-bulan itu adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.

Orang-orang Arab, disamping orang-orang Yahudi dan Nashrani, juga mempraktikan ibadah haji pada setiap bulan Dzulhijjah. Hal ini menunjukkan bahwa ajaran agama (Ibrahim) merupakan keyakinan utama masyarakat Arab. Namun disamping keyakinan tersebut tampaknya terjadi sebuah proses asimilasi dengan keyakinan lokal–selain dengan agama Yahudi dan Nashrani–yang mempercayai dewa-dewa dan berhala.

Masyarakat Arab dikenal sangat mempercayai makhluk halus seperti jin, dan kerap memberikan sesaji di tempat-tempat seperti gua dan mata air. Reruntuhan kuno di Palmyra bahkan dipercaya masyarakat Arab sebagai istana Nabi Sulaiman yang mahsyur, yang dibangun oleh bangsa jin. Dan sejak awal orang Arab memiliki kepercayaan bahwa para penyair dapat menggunakan kekuatan jin dalam syair atau mantra mereka.

Kata “Allah” juga sudah lama dikenal masyarakat Arab. Tercermin dari nama ayah Muhammad SAW, yang bernama Abdullah. Pada masyarakat Saba kuno, konsep kata “Allah” lebih menyerupai dewa ketimbang tuhan yang esa. Dalam beberapa suku, dewa Allah diyakini memiliki putra, diantaranya al-Lat dan al-Uzza (Latta dan Uzza, keduanya adalah dewa atau tuhan perempuan (dalam bahasa Arab, al-lat adalah bentuk muannas/perempuan dari al-lah yang mudzakkar/lelaki). Dewa-dewa lain yang dikenal adalah dewa al-Rahman dan dewa al-Rahim, yang lebih mirip sifat-sifat Allah. Dan ada juga dewa Hubbal, yang merupakan keyakinan ‘impor’ dari Arab-Persia.

Meski bukan mayoritas, sejarah menunjukkan bahwa sebagian masyarakat Arab di masa Nabi SAW ada yang memeluk agama Kristen, diantaranya adalah paman Siti Khadijah yang bernama Waraqah ibn Naufal. Kalangan Arab yang menganut agama Kristen umumnya adalah masyarakat Arab di utara, khususnya yang berada di daerah sekitar Suriah saat ini.

Kembali ke Festival Ukaz…

Silahkan bayangkan! Bagaimana masyarakat Arab berkumpul setiap bulan Dzulqa’dah di kota Ukaz setiap tahunnya?

Bila perjalanan Saba-Aqabah memakan waktu 70 hari, dan perjalanan Mekah-Hebron sekitar 40 hari, maka menurut perkiraan saya:

* Palmyra-Ukaz sekitar 60 hari (kerajaan Gassan).
* Hirrah-Ukaz sekitar 70 hari (kerajaan Lakhmi)
* Saba-Ukaz sekitar 30 hari (kerajaan Saba)
* Hadramaut-Ukaz sekitar 45 hari (kerajaan Hadramaut, Himyar, dll)

Jadi dapat dibayangkan bagaimana ramainya Festival Ukaz, ketika semua suku dari seluruh jazirah Arab bertemu dengan damai…

***

Berikut adalah link terjemahan Bahasa Inggris dari puisi-puisi Mu’allaqat, berjudul “Arabian Poetry” karya W.A. Clouston http://www.sacred-texts.com/isl/arp/index.htm, atau dapat dibeli di Amazon.

@zaenal
Bandung, Maret 2009

Related Articles:


Leave a Reply