Hopp bukan Abramovich
Posted in Gado-Gado on November 25th, 2008 – Tags: kolom, sepakbola – Be the first to commentBuat pecinta bola sekalipun, Hoffenheim adalah nama yang asing. Berbeda misalkan kalau kita menyebut nama Real Madrid, Manchester United atau AC Milan. Bahkan kalau disebut 10-20 tahun yang lalu, orang Jerman sekalipun tidak akan mengenal klub sepakbola bernama TSG Hoffenheim.
Hoffenheim adalah sebuah kota kecil dekat Heidelberg, yang berpenduduk sekitar 3000 jiwa. Sekitar 20 tahun lalu, klub sepakbolanya berada di Divisi 9, namun di tahun 2008 ini sudah berada di Divisi 1 atau Bundesliga. Itu artinya hampir setiap dua tahun, Hoffenheim mendapatkan promosi ke divisi yang lebih tinggi.
Perubahan drastis ini terjadi manakala Dietemar Hopp–yang dikenal sebagai pendiri perusahaan sofware raksasa SAP–melakukan investasi untuk Hoffenheim. Sebagai pemilik perusahaan software terbesar di Eropa atau ketiga di dunia, alih-alih membeli klub tenar, Hopp menginvestasikan dananya untuk Hoffenheim, sebuah klub sepakbola dari tempat kelahirannya dan tempat dia bermain pada masa muda.
Pada 1989 Hoop mulai melakukan pembenahan di Hoffenheim dengan diawali pembenahan sarana latihan klub. Dan yang dilakukan Hopp tidaklah memboroskan uang membeli pemain demi mengejar sukses, tetapi fokus meningkatkan kualitas pemain muda. Terbukti pada tahun 2003, ketika Hoffenheim sudah berada di Divisi 3, semua pemainnya memegang passpor Jerman, dan kebanyakan berasal dari daerah sekitar kota Hoffenheim. Adapun antara tahun 2004-2006, hanya ada satu orang pemain kelahiran non Jerman.
Lalu ketika promosi ke Divisi 2 di tahun 2007, jumlah pemain asingnya bertambah menjadi tiga orang. Dan kini, saat sudah berada di Divisi 1 atau Bundesliga, Hoffenheim baru mengeluarkan dana pembelian pemain yang cukup besar, yakni sekitar 18 juta Euro, untuk membeli Carlos Eduardo (20 tahun, Brazil), Edu (21 tahun, Nigeria) dan Demba Ba (22 tahun, Senegal).
“Saya berbeda dari Roman Abramovich”, demikian katanya suatu hari. “Saya melakukan investasi demi membangun fondasi untuk masa depan. Dan perhatian utama saya adalah pembinaan para pemain muda”. Dan apa yang dilakukan Hopp, tidak bisa dibandingkan dengan Abramovich di Chelsea atau Thaksin Sinawatra di Manchester City.
Lagi pula, dalam perundangan di Jerman, tidak ada seorang pun yang bisa membeli klub atau memilikinya. Hopp–yang diperkirakan telah menghabiskan dana sekitar 100 juta Euro selama 20 tahun ini–bukanlah “board of directors”, “club’s president” atau pun pemilik klub. Lalu dimanakah posisi Hopp? sekedar patron. Hal ini membuat orang seperti Hopp tidak bisa memperoleh keuntungan material ketika menginvestasikan dana untuk sebuah klub sepakbola di Jerman.
Kini Hoffenheim memiliki stadion dengan kapasitas 30.000 tempat duduk. Ini tentu sangat ‘mewah’ untuk sebuah kota yang berpenduduk hanya 3000 jiwa. Kebayang, gak, meskipun bermain di kandang, jumlah supporter tuan rumah tetap kalah banyak dibanding supporter lawan. Tampaknya itulah permasalahan Hoffenheim yang tidak mungkin dapat diselesaikan dengan segera, kecuali mengimpor bonex Persebaya atau bobotoh Persib menjadi TKI disana.
@dari berbagai sumber, termasuk soccernet.com
